HARGA DIRI LELAKI ADALAH BEKERJA!!

Posted in Uncategorized on November 10, 2010 by ristyandani

Sepekan yang lalu, saya pulang ke Jogja, dengan mengantongi SPD  (Surat Perjalanan Dinas) dari pondok (wuihh…). Maksudnya, saya pulang ke Jogja itu bukan karena kangen keluarga atau bosan hidup di Pondok Darul Atsar, tetapi karena saya dapat amanah untuk beli printer yg sudah diinfus. Berhubung di Temanggung gak ada yang jual (maklum kota kecil…) maka, saya diutus oleh pengurus Pondok Darul Atsar, pada hari Jumat pekan lalu untuk beli printer di Jogja. Alhamdulillah, Allah memberi barokah dan kemudahanNya pada Pondok Darul Atsar,sehingga saya dapet yang murah dan bagus, Printer Epson CX5500 Print Scan Copy cuman 450ribu (sudah gak diproduksi, dadi murah….pingine tak pek dewe…..la wong murah tenan…)

Esok paginya (hari sabtu), saya balik ke Temanggung naik bus, duduk di depan, supaya box printernya bisa saya taruh di atas kap mesin. Turun terminal Magelang, ganti bus ke jurusan Wonosobo. Nah, posisi duduk saya tetap sama :duduk depan, dan box printer ditaruh di atas kap mesin.

Seperti biasa…yang namanya bus dan truk itu kan di bagian supirnya sering penuh dengan sticker yang isinya aneh – aneh. Ada yang isinya nasehat (seperti : “roda macet, ora ngliwet” ;  “meninggalkan istri, demi sesuap nasi”). Tapi yang paling banyak, yang isinya nyerempet hal-hal vulgar (ini tidak perlu saya contohkan kata-katanya). Nah, namun bus yang saya tumpangi kali ini hanya menempelkan satu sticker, di sebelah kiri stir, dengan desain sederhana (tulisan hitam dgn background kuning), bertuliskan :

Saya ingin memotret sticker tersebut, tetapi sayangnya HP saya tidak ada kameranya. Jadi saya ingat kuat-kuat desain dan detil kata-katanya (insyaAllah sama seperti gambar di atas).

Kalau saya umpakan, kata-kata ini seperti silet, ringan tapi menghujam. Seorang lelaki dewasa (lepas sudah menikah / belum), tentu tidak ingin dikatakan sebagai parasit, yang hanya bisa menengadahkan tangan pada orang lain. Tentu saja dia ingin dikatakan sebagai orang yang mandiri, yang bisa mencukupi kebutuhannya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Karena dari sisi karakternya, gengsi lelaki untuk meminta tolong itu lebih besar daripada wanita, karena BAGI LELAKI, MEMINTA ADALAH SUATU KELEMAHAN, dan ini merupakan hal yang memalukan. Apalagi jika lelaki tersebut telah berkeluarga (menikah), wajib bagi dirinya untuk menafkahi keluarganya dengan cara yang halal.

Rasulullah bersabda: “Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi ataupun tidak.” (HR. Bukhari)

Ah…saya jadi malu sendiri ketika membaca tulisan tersebut, karena nafkah saya pun masih belum cukup untuk menghidupi diri saya sendiri, masih kurang berusaha untuk bekerja, dan masih bergantung pada orang lain.

Kemiri, 3 Dzulhijjah 1431 H-

———————————————————————————————————————————————————————————————————-

Saya sengaja tidak memperpanjang penjelasan kenapa harga diri seorang lelaki terletak bahwa dia harus bekerja. Karena saya pikir, semua lelaki bisa meresapi sendiri kata-kata tersebut.

———————————————————————————————————————————————————————————————————–

Mondok di Darul Atsar Temanggung

Posted in Uncategorized on October 27, 2010 by ristyandani

Sudah sebulan lebih saya belajar agama di Ponpes Darul Atsar di Kedu, Temanggung. Ada perubahan pola hidup yang sangat besar. Saya yang biasanya banyak mobile (pergi kemana-mana naik motor terus) keliling Jogja, sekarang hidupnya tidak kemana-mana, hanya berkutat pada buku tulis, kitab,  hapalan, ta’lim, dan muroja’ah.

Saya disini bisa dibilang termasuk santri yang umurnya sudah tua (23 tahun), karena rata-rata santri disini usia SLTP- SLTA ( kira-kira 13-19 tahun). Apabila umurnya sudah 20an lebih, maka biasanya santri tersebut sudah lama belajar di pondok, dan sudah diamanahi untuk mengampu mata pelajaran tertentu. Ketika pembagian kamar, melihat umur saya sudah tua ini, pengurus pondok (Abu Yahya –hafidzahullah-) menempatkan saya di ruangan para senior tersebut. Jadi, saya sekamar bersama para mudarris tersebut –hafidzhumullah-. Saya bersyukur, karena banyak faidah ilmu yang bisa saya dapatkan dari mereka. Walau tua, saya tetap masuk dari awal, dari kelas 1.

Ada kejadian lucu pada hari pertama mondok. Ketika talim kelas 1 dimulai, kami belum saling mengenal. Saya duduk dengan meja kecil di ruang talim, sambil buka-buka kitab.  Nah, rombongan santri kelas saya pun mulai berdatangan, mereka berusia 12-16 tahun. Anehnya, santri-santri tersebut lalu duduk mengelilingi saya. Saya belum sadar, masih asyik buka-buka kitab. Sampai mereka diam semua sambil melihat ke saya, saya bengong, mereka sudah pada siap nulis…….dan..ternyata…..hohohohoho….ternyata saya dikira mudarris!!

Saya : “ lo….mudarrisnya bukan saya lo…saya juga santri kelas 1 sama kayak kalian”

Santri : “lo…bukan Mas-nya to….kami kira…soalnya masnya keliatan tua mas…..kami kira antum yang ngajar”

Lalu datanglah Ahmad –hafidzahulllah- (18 tahun, asli Kendal). Beliaulah mudarris kami, yang mengajar dars Nahwu.

Kehidupan di pondok bisa dibilang statis, karena seperti yang saya sebutkan diatas, bahwa kami memang menyibukkan diri untuk belajar agama. Saya benar-benar kagum dengan semangat para santri disini. Mereka, di waktu luang sangat bersemangat untuk menghapal matan-matan kitab, Al Quran, dan Al Hadits. Kalau bada shubuh dan isya, akan terdengar ramai suara-suara santri yang menghapal dengan suara keras.

“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Ponpes Darul Atsar berada di bawah bimbingan Ustadz Qomar hafidhahullah. Akan tetapi, karena kesibukan beliau, maka hal-hal mengenai manajemen operasional pondok diurusi oleh santri-santri senior. Untuk pertama kalinya dalam hidup, di sinilah saya memasak untuk porsi 65 orang (piket tiap 3 pekan sekali), menggunakan panci dan wajan yang sangat besar (anak orang juga bisa masuk tuh).

Saya sekamar dengan Oni (23tahun), dan Sufyan (22tahun) hafidhahumullah. Oni ini adalah teman lama saya di Teknik UGM dulu (hix….tapi dia lupa saya….). Tapi, best graduate SMA 5 Jogja 2005 ini lalu memutuskan untuk serius mendalami agama, dan mulai mondok sejak 2006.  Sufyan, adalah ahli lughoh kami. Sering kita merasa bahwa memahami ilmu agama dan bahasa arab itu sesuatu yg berat dan memusingkan. Tapi hal ini tidak akan terjadi jika pengajarnya Sufyan. Sufyan orangnya ceria dan suka bercanda. Sehingga, kita murid-muridnya akan merasa suka bila diajari olehnya. Bahkan pada pertemuan pertama pun, kita akan langsung merasa bahwa Sufyan ini ramah.

Kalau ditanya siapa orang yang paling menarik perhatian saya di ponpes ini, maka jawabannya Abbul Harits hafidhahullah. Total saya bertemu Abbul Harits hanya 3 jam. Jumat malam pekan pertama, ketika dia mengemasi barang-barangnya, dan sabtu malam esoknya, ketika dia pamit dengan para santri, pergi ke Saudi, mulazamah dengan Syaikh Abdullah Shalfiq hafidhahullah. Namun, pertemuan yang hanya sebentar ini benar-benar membekas dalam benak saya.

Abbul Harits ini seusia dengan saya (hanya lebih tua sebulan), akan tetapi keluasan ilmunya – subhanallah – bagaikan bumi dan langit dengan saya. Ketika pamit pada sabtu malam itu, dia memberikan nasehat yang sangat bagus kepada kami. Apa yang dia sampaikan itu benar-benar membuat saya tertegun (mungkin karena faktor dia sebaya dengan saya), kata-kata yang diucapkannya mengalir tanpa jeda, tanpa banyak berpikir atau bingung. Menunjukkan luas, kedalaman, dan kokohnya ilmu, hasil dari payahnya belajar dan menghafal, serta kemampuan retorika yang luar biasa.  Dan kefasihannya dalam menyampaikan dalil (Abbul Harits ini sudah hafidz Quran), membuat orang akan merasa mantap dengan ilmu yang disampaikannya.

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan faqihkan (pahamkan) dia dalam agamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Atas kedalaman ilmunya inilah, dia sering diminta mengajar rutin di kota Semarang dan Temanggung, termasuk lapas. Sampai-sampai kepikiran, jika Abbul Harits sudah pulang dari Saudi dan aktif berdakwah (jadi ustadz), dan saya memiliki anak, maka saya ingin anak saya diajari olehnya….hehe….

Untuk sementara, itu dulu yg diceriitakan mengenai kehidupan saya sebulan ini di Mahad Darul Atsar, Kedu, Temanggung ini. Mungkin, saya akan cerita banyak lagi yang lain. Saya belum cerita mengenai Mbah Win yang suka mogok, blum cerita tentang kopi ala Iyadh yg konyol, si rapi Mahfudz, si kecil Difa, si cerdas Rijal, ex penyanyi Anhari, Fauzi dan Siddiq juragan lele, Pak Guru Arif, imutnya anak Ustadz, bakso Koramil, dan lain-lain. Doakan semoga pondok kami menjadi tempat yang barokah, yang bisa menghasilkan dai-dai yang selalu belajar, menyebarkan ilmu, dengan hikmah.

 

Kemiri, 20 Dhulqo’idah 1431

Kemanakah Akhlaq Karimah Umat Ini ?

Posted in Uncategorized on June 24, 2010 by ristyandani

Kamis, 24 Juni 2010..saya membaca berita

Pencuri Kotak Amal Tewas Dikeroyok

JAKARTA (Pos Kota)- Mencuri kotak amal dari Mesjid At Taqwa di Jalan Cipiang Muara I, RT 02/03 Pondok Bambu, Jakarta Timur, lelaki tanpa identitas harus meregang nyawa lantaran diamuk massa.

Peristiwa itu terjadi 23 Juni 2010 pukul 02.30 WIB. Ketika itu, warga memerogi lelaki itu mau mencuri isi kotak amal di Mesjid At Taqwa ,Jl. Cipinang Muara I Pondok Bambu Jaktim.

Warga lalu menghakimi lelaki tersebut hingga tak sadarkan diri. Untung tak lama kemudian datang mobil patroli milik Polsek Duren Sawit. Lelaki tersangka pencuri itu segera dilarikan ke RS Polri Kramat Jati. Namun sekitar pukul 06.00, ia tewas.

Polsek Duren Sawit berharap ada anggota keluarga datang untuk mengurus jenazah tersangka. (binsar)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/06/24/pencuri-kotak-amal-tewas-dikeroyok

Subhanallah….

Saya mengelus dada atas peristiwa ini. Memang mencuri adalah perbuatan yang salah. Tapi membunuh orang tanpa haq merupakan perbuatan yang lebih salah lagi. Sebagaimana yang Rasulullah jelaskan :

“Darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah adalah tidak diperkenankan (untuk ditumpahkan darahnya) kecuali berdasarkan pada tiga hal, balasan karena telah membunuh seseorang (qishash), menghukum pezina (rajam), seseorang yang meninggalkan agamanya (murtad), meninggalkan dari al Jama’ah” (Bukhari dan Muslim)

Saya hanya menghelas nafas atas kejadian ini. Sudah sebegitu anarkisnya kah umat ini? Sehingga pencuri kotak amal masjid –yang tentunya jumlahnya tidak seberapa-  pantas kehilangan nyawanya?

Padahal Rasulullah bersabda,
“Sungguh hilangnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” .

Kita akhir-akhir ini disuguhkan oleh berbagai berita, di mana umat ini, terkhusus di Indonesia, mudah sekali untuk bertindak brutal. Apakah anarkis memang sudah menjadi mental kita ? Dimana setiap ada kesempatan untuk berbuat seenaknya tanpa ada resiko hukum, pasti langsung dimanfaatkan. Makin bisa brutal, semakin senang. Mengeroyok maling sampai mati, rusuh supporter, naik sepeda motor bergerombol tanpa helm dan melawan arah, geng motor dan pelajar. Naudzubillah…..

Padahal Allah telah jelas-jelas menerangkan

“ Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas “ (Surah al-Maidah : 87).

Dikisahkan  Shafwan bin Umayyah ketika dicuri harta bendanya. Qodarallah dia bisa menangkap pencurinya dan membawanya kepada Nabi. Nabi memerintahkan memotong tangan pencuri, tetapi Shafwan memaafkan. Maka Nabi bersabda: “Seharusnya ini (pemaafan) sebelum engkau membawanya kepadaku”. (Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i). Sekiranya nabi belum memutuskan pidananya, maka insyaAllah pencuri tersebut tidak jadi dipotong tangannya.

Maksud saya disini bukan untuk mengajarkan bahwa setiap pencuri harus dimaafkan. Akan tetapi, hendaknya umat ini mengedepankan rasa welas asih terhadap sesamanya.

“Tolonglah saudaramu baik yang zhalim maupun yang dizhalimi.” (HR. Al-Bukhari)

Karena banyak juga dari pencuri tersebut yang mencuri karena terhimpit oleh kebutuhan ekonomi, sehingga mereka gelap mata. Masih teringat dalam benak kita, bagaimana sikap Syaikhuna Bin Baz terhadap pencuri yang mendatangi rumahnya pada malam hari, ketika beliau sedang qiyamul lail. Beliau bahkan memaafkan pencuri tersebut, lalu memberinya uang, setelah tahu bahwa pencuri tersebut membutuhkan biaya untuk operasi ibunya.

Beginilah agama ini, melalui Allah dan Rasulnya, melalui para ulama,  mengajarkan, bagaimana kita selalu dituntut untuk berbuat welas asih, dan tidak melampaui batas terhadap sesamanya. Semoga Allah selalu melembutkan hati kita, sehingga kita tidak bertindak melampaui batas.

“Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik terhadap segala sesuatu.” (HR. Al-Bukhari)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.