Sepekan yang lalu, saya pulang ke Jogja, dengan mengantongi SPD (Surat Perjalanan Dinas) dari pondok (wuihh…). Maksudnya, saya pulang ke Jogja itu bukan karena kangen keluarga atau bosan hidup di Pondok Darul Atsar, tetapi karena saya dapat amanah untuk beli printer yg sudah diinfus. Berhubung di Temanggung gak ada yang jual (maklum kota kecil…) maka, saya diutus oleh pengurus Pondok Darul Atsar, pada hari Jumat pekan lalu untuk beli printer di Jogja. Alhamdulillah, Allah memberi barokah dan kemudahanNya pada Pondok Darul Atsar,sehingga saya dapet yang murah dan bagus, Printer Epson CX5500 Print Scan Copy cuman 450ribu (sudah gak diproduksi, dadi murah….pingine tak pek dewe…..la wong murah tenan…)
Esok paginya (hari sabtu), saya balik ke Temanggung naik bus, duduk di depan, supaya box printernya bisa saya taruh di atas kap mesin. Turun terminal Magelang, ganti bus ke jurusan Wonosobo. Nah, posisi duduk saya tetap sama :duduk depan, dan box printer ditaruh di atas kap mesin.
Seperti biasa…yang namanya bus dan truk itu kan di bagian supirnya sering penuh dengan sticker yang isinya aneh – aneh. Ada yang isinya nasehat (seperti : “roda macet, ora ngliwet” ; “meninggalkan istri, demi sesuap nasi”). Tapi yang paling banyak, yang isinya nyerempet hal-hal vulgar (ini tidak perlu saya contohkan kata-katanya). Nah, namun bus yang saya tumpangi kali ini hanya menempelkan satu sticker, di sebelah kiri stir, dengan desain sederhana (tulisan hitam dgn background kuning), bertuliskan :
Saya ingin memotret sticker tersebut, tetapi sayangnya HP saya tidak ada kameranya. Jadi saya ingat kuat-kuat desain dan detil kata-katanya (insyaAllah sama seperti gambar di atas).
Kalau saya umpakan, kata-kata ini seperti silet, ringan tapi menghujam. Seorang lelaki dewasa (lepas sudah menikah / belum), tentu tidak ingin dikatakan sebagai parasit, yang hanya bisa menengadahkan tangan pada orang lain. Tentu saja dia ingin dikatakan sebagai orang yang mandiri, yang bisa mencukupi kebutuhannya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Karena dari sisi karakternya, gengsi lelaki untuk meminta tolong itu lebih besar daripada wanita, karena BAGI LELAKI, MEMINTA ADALAH SUATU KELEMAHAN, dan ini merupakan hal yang memalukan. Apalagi jika lelaki tersebut telah berkeluarga (menikah), wajib bagi dirinya untuk menafkahi keluarganya dengan cara yang halal.
Rasulullah bersabda: “Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi ataupun tidak.” (HR. Bukhari)
Ah…saya jadi malu sendiri ketika membaca tulisan tersebut, karena nafkah saya pun masih belum cukup untuk menghidupi diri saya sendiri, masih kurang berusaha untuk bekerja, dan masih bergantung pada orang lain.
Kemiri, 3 Dzulhijjah 1431 H-
———————————————————————————————————————————————————————————————————-
Saya sengaja tidak memperpanjang penjelasan kenapa harga diri seorang lelaki terletak bahwa dia harus bekerja. Karena saya pikir, semua lelaki bisa meresapi sendiri kata-kata tersebut.
———————————————————————————————————————————————————————————————————–

